Kulit manggis menjadi sebuah fenomena akhir-akhir ini, bahkan menjadi viral setelah muncul iklannya yang tayang berulangkali dan hampir tiap hari di TV. Tetapi jauh sebelum itu, produk kulit manggis sudah muncul dalam bentuk Teh kulit manggis yang dikemas dalam botol, juga Teh kulit Manggis dalam bentuk kekring dan siap diseduh. Produk ini bukanlah berasal dari perusahaan besar dan negara terkenal tetapi justru muncul dari sebuah desa terpencil. Desa Somongari, sebuah desa terpencil yang berada di perbukitan menoreh dan masuk dalam Kabupaten Purworejo.
Berawal dari keprihatinan akan rendahnya harga jual buah Manggis saat panen raya, Subagyo yang saat itu menjabat sebagai Lurah Somongari dan istrinya Marsiyem kemudian berinisiatif untuk memproduksi jus buah manggis dan teh kulit manggis.
“Awalnya, kami prihatin melihat kondisi petani saat panen karena harga selalu jatuh. Jadi langkah itu merupakan usaha meningkatkan kesejahteraan petani,” tuturnya.
Saat awal panen, harga jual buah manggis bisa mencapai Rp 7.000 perkilogram. Namun memasuki puncak hingga akhir panen, harga anjlok hingga Rp 2.000 perkilogram. Kendati termasuk komoditas tahunan dan dibudidayakan hampir tanpa biaya perawatan, namun petani tetap gigit jari karena kehilangan keuntungan.
Menurutnya, ide itu diperoleh setelah membaca buku manfaat buah manggis yang dibawa pulang rekannya dari Jepang. “Ternyata diluar negeri, manggis diakui khasiatnya sebagai buah yang memiliki kadar antioksidan tertinggi. Ada kandungan ‘xanthone’ dan ‘tanin’ yang berfungsi sebagai anti peradangan serta antioksidan,” terangnya.
Produk teh kulit manggis dan jus buah siap minum dijual dengan harga Rp 7.000 – Rp 10.000 perbotol. Sementara teh kulit manggis kering dipasarkan Rp 17.000 – Rp 22.000 perkemasan seberat 100 gram. Saat ini pemasaran produk olahan bermerek Gisthone (manggis xanthone) itu juga sudah merambah konsumen di Semarang, Solo, Yogyakarta dan sejumlah daerah Purworejo.
